Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia! Jay Noah Idzes Siap Membela Timnas Sebagai Pemain Naturalisasi

- Kamis, 28 Desember 2023 | 20:01 WIB
Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia! Jay Noah Idzes Siap Membela Timnas Sebagai Pemain Naturalisasi

BICARA BERITA - Jay Noah Idzes telah siap membela Timnas Garuda dan telah selesai melakukan pengambilan sumpah dan janji setia pewarganegaraan Republik Indonesia di Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta, Kamis (28/12).

Calon pemain timnas Indonesia, Jay Idzes, sudah tiba di Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta, Kamis guna diambil sumpah. Jay Idzes hadir dengan mengenakan kemeja putih dibalut dengan jas hitam dan dasi merah.

Jay Idzes bisa hadir ke Indonesia untuk diambil mengingat jadwal yang tengah longgar karena seperti yang diketahui klub Jay Idzes, Venezia FC yang berlaga di Serie-B 2023/2024 sedang memasuki jeda kompetisi hingga pertengahan Januari 2024.

Keduanya merupakan pemain yang berposisi di sektor pertahanan. Sejatinya, timnas Indonesia sudah diperkuat beberapa pemain keturunan yang berposisi di lini belakang.

Baca Juga: Indra Charismiadji Juru Bicara Pendukung Capres Paslon 01 Timnas AMIN Ditangkap, Terkait Dugaan Kasus Penggelapan Pajak!

Proses naturalisasi Idzes pun berlangsung singkat. Pada awal Desember ini Komisi III dan X DPR RI menyetujui pengajuan naturalisasi keduanya. Sehari berselang Paripurna DPR mengetuk palu persetujuan.

Sebelum Idzes, PSSI telah merampungkan naturalisasi empat pemain keturunan Eropa lainnya, yakni Jordi Amat, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, Ivar Jenner, Rafael Struick dan yang terakhir adalah Justin Hubner.

Mereka semua yang sudah menjadi WNI, kini sudah bersama tim nasional Indonesia yang sedang melakukan TC di Turki.

Jay merupakan pemain belakang yang lahir pada 2 Juni 2000 di Mierio, Belanda. Pria berpostur 191 cm ini memiliki darah Indonesia dari kakek dan neneknya.

Setelah jadi WNI, Jay Idzes mengaku senang. Ia tampak antusias menjalani tahapan-tahapan proses menjadi WNI.

Setelah menjalani pengambilan sumpah dan janji setia pewarganegaraan Republik Indonesia di Kanwil Kemenkumham, Jay Idzes langsung menuju kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta kantor Imigrasi untuk mengurus KTP dan paspor.

Baca Juga: Israel Siapkan Wilayah Timur Sebagai Buffer Zone, Menlu Rusia: Hentikan Lingkaran Setan Kekerasan, Strategi Tahap C

Kehadiran Jay Idzes diharapkan semakin menambah kuat timnas Indonesia untuk berkompetisi di ajamg besar nantinya.***

 

Artikel ini telah lebih dulu tayang di: bicaraberita.com

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terkini