GELORA.ME - Presiden Soeharto merasa begitu kecewa ketika menerima surat pengunduran diri 14 menteri, pada 20 Mei 1998 malam, di kediamannya, Jalan Cendana, Jakarta.
Dia merasa ditinggalkan para menteri di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri Ginandjar Kartasasmita.
Mereka menolak masuk Kabinet Reformasi yang menjadi upaya Soeharto untuk menyelamatkan rezim Orde Baru yang berada di ujung tanduk.
Pengunduran diri para menterinya itu menyadarkan Soeharto bahwa tidak ada pilihan lain selain meletakkan jabatan.
Baca juga: Kala 14 Menteri Mundur Jelang Kejatuhan Soeharto...
Dilansir GELORA.ME, suasana hati Soeharto pada malam menjelang pengunduran diri diungkapkan oleh Probosutedjo, adik Soeharto, dalam Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto.
Malam sebelum Soeharto lengser, Probosutedjo kembali ke rumah kakaknya itu sekitar pukul 18.30 WIB. Malam itu suasana di Cendana sangat sepi.
Namun, Probosutedjo memberanikan diri masuk dan melihat Soeharto bersama sang putri, Siti Hardijanti Rukmana, atau biasa dipanggil Mbak Tutut, duduk di ruang tamu.
Dia langsung duduk bergabung dan coba memberikan semangat untuk kakaknya. Namun, Tutut memintanya untuk tidak lagi berupaya meluruskan keadaan.
Tutut pula, kata dia, yang menyodorkan surat pengunduran diri 14 menteri ke hadapannya.
Adapun 14 menteri yang mundur yakni Akbar Tandjung, AM Hendropriyono, Ginandjar Kartasasmita, Giri Suseno Hadinardjono, Haryanto Dhanutirto, dan Justika Baharsjah.
Kemudian, Kuntoro Mangkusubroto, Rachmadi Bambang Sumadhijo, Rahardi Ramelan, Subiakto Tjakrawerdaja, Sanyoto Sastrowardoyo, Sumahadi, Theo L Sambuaga, dan Tanri Abeng.
Saat itu, ungkap Probosutedjo, Tutut mengatakan ayahnya sudah bulat untuk mundur.
"Ia sangat kecewa, itu jelas. Ditinggalkan para menterinya adalah pukulan hebat bagi presiden mana pun," kata Probosutedjo.
Baca juga: Kunjungan Soeharto ke Mesir Sebelum Mundur sebagai Presiden...
Kekecewaan Soeharto bertambah ketika mendengar kabar bahwa Wakil Presiden BJ Habibie menyatakan bersedia menggantikannya sebagai presiden.
Soeharto mengeluhkan sikap Habibie. Ia tak habis pikir Habibie berubah dalam tempo singkat, padahal sebelumnya menyatakan tak sanggup menjadi presiden.
"Ini membuat kakak saya sangat kecewa. Hari itu juga dia memutuskan untuk tidak mau menegur atau bicara dengan Habibie," ungkapnya.
Malam itu, Habibie menelepon Soeharto. Namun, pemimpin Orde Baru itu enggan bicara.
Cerita Habibie menelepon Soeharto pada 20 Mei 1998 malam juga dikonfirmasi oleh mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie, yang pada waktu itu ada di kediaman BJ Habibie.
Bagi Probosutedjo, suasana ruang tamu Cendana malam itu tak akan pernah ia lupakan.
Dengan wajah redup namun tenang, ungkapnya, Soeharto mengatakan dengan lirih, "Saya akan mengundurkan diri, baik."
Probosutedjo sempat menanyakan siapa yang akan menjadi presiden setelah Soeharto lengser, dengan singkat Soeharto menyebut nama Habibie.
Pemimpin 32 tahun Orde Baru itu mengatakan, "Sudahlah saya ikhlas."
Keesokan harinya, pada 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB, di Istana Merdeka, Jakarta, Soeharto mengumumkan berhenti dan Wakil Presiden BJ Habibie diangkat menjadi presiden.
Baca juga: Dinamika Seputar Peralihan Kekuasaan Soekarno ke Soeharto...
Sumber: kompas.com
Artikel Terkait
ANEH! Guru Besar Unnes Unggah Ijazah S1 UGM Miliknya, Tapi Kok Beda Dengan Milik Jokowi?
Jokowi Pamerkan Ijazah SD hingga Kuliah di UGM: SMA, Saya Juara Umum!
Jokowi Larang Wartawan Foto Ijazah dan Ancam Penebar Fitnah
Disebut Mirip Gibran, TikToker Ini Punya Ibu dengan Wajah Seperti Iriana